ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Rifertar- Ketika menyaksikan pertandingan Liga Primer Indonesia, perhatian Anda pasti lebih banyak tertuju kepada aksi olah bola pemain bintang seperti Irfan Bachdim, Kim Jeffrey Kurniawan, hingga Andik Vermansyah. Sosok pengadil di lapangan mungkin jarang menjadi buah bibir kecuali terjadi keputusan kontroversial yang menimbulkan kerusuhan.

Namun, sosok wasit yang satu ini sangat pantas menjadi perbincangan karena, selain mengabdikan dirinya untuk perkembangan sepak bola nasional, ternyata ia juga seorang penegak hukum dan menjabat sebagai kapolsek di wilayah Kota Bangli, Bali.

Pria multitalenta ini bernama Ajun Komisaris Muhammad Taufiq. Sepak bola bukanlah hal yang baru bagi bapak dua anak ini. Di tengah kesibukannya bertugas di kepolisian, Taufiq mulai menggeluti dunia perwasitan sejak tahun 1996.

"Emang hobi. Kita, kan, ingin mengembangkan sepak bola nasional," kata Taufiq kepada Kompas.com.

Pria kelahiran Lombok Timur ini sukses mendapatkan lisensi wasit C1 Nasional di Surabaya pada tahun yang sama. Setelah memegang lisensi tersebut, ia pun mulai merambah dunia perwasitan Indonesia dengan memimpin pertandingan dalam kompetisi sepak bola nasional mulai dari Liga Dunhill hingga Indonesian Super League (ISL).

"Saya sudah 14 tahun menjadi wasit nasional, sejak Liga Dunhill tahun 1996," ujar pria berusia 45 tahun ini.

Setelah 14 tahun berkiprah di sepak bola nasional di bawah naungan PSSI, Taufiq pun memilih menyeberang ke LPI pada awal bergulirnya liga "kontroversial" pada tahun 2011 ini. Menurut pria yang juga menggemari olahraga beladiri judo ini, keputusannya pindah ke LPI karena ingin merasakan atmosfer sepak bola yang lebih profesional.

"Kalau di LPI tidak ada intervensi. Mulai dari lorong hingga lapangan, kita berjalan bareng pemain tanpa ada perasaan takut. Kalau dulu, enggak ada suasana seperti itu," ucapnya.

Taufiq juga melihat adanya perubahan sistem dan kualitas yang signifikan dalam bidang perwasitan di LPI. Saat ia masih menjadi wasit ISL, akomodasi wasit ditanggung pihak tuan rumah sehingga rentan terjadi suap-menyuap. Hal ini sangat berbeda dengan LPI yang seluruh fee dan akomodasi ditanggung oleh pihak LPI.

"LPI kesejahteraan lebih bagus, fasilitas dan akomodasi terjamin sehingga para wasit LPI tidak ada niatan untuk menerima suap. Ada komitmen tegas tidak boleh menerima imbalan sesudah atau sebelum bertanding. Kalau ketahuan, kita akan dipecat," tutur korlap wasit LPI Bali, NTB, dan NTT ini.

Aktivitasnya sebagai wasit di LPI tak mengganggu kinerjanya sebagai anggota Polri karena pertandingan LPI selalu digelar setiap akhir pekan, yakni Sabtu dan Minggu. Taufiq yang pernah mengikuti kursus wasit AFF dan AFC ini tak pernah absen memimpin pertandingan LPI setiap minggunya.

Ia telah memimpin enam pertandingan sejak LPI digulirkan pada 8 Januari lalu. Salah satu keputusan beraninya adalah memberikan kartu merah kepada dua pemain dalam laga antara Bandung FC melawan Persema Malang di Stadion Siliwangi, Bandung, 5 Februari lalu. Seusai pertandingan, Taufiq pun mendapat pujian dari sejumlah pihak dalam partai yang dimenangkan oleh tim tamu dengan skor 1-0 tersebut.


sumber: Kompas.com

About Richard Fernando

This is a short description in the author block about the author. You edit it by entering text in the "Biographical Info" field in the user admin panel.
«
Next
Newer Post
»
Previous
Older Post

No comments:

Post a Comment

Dunia Dalam Berita


Top